Prof. Yunan Yusuf: Jadilah Ibrahim Dan Ismail Era Now

Pcmkebayoranbaru.org | Jakarta. – Dihari yang mulia ini, kaum Muslimin di seluruh dunia dan kita di sini kembali berhari raya dengan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. sebagaimana kita kumandangkan dua bulan yang lalu juga pada Hari Raya.
Bila pada dua bulan yang lalu kita ber-Idul Fitri dengan mengenakan libas at-tagwa (pakaian ketakwaan) karena kita keluar sebagai pemenang dari pertarungan mengalahkan hawa nafsu, menghacurkan keserakahan dan ketamakan serta mengeksekusi kebinatangan dalam diri kita, maka sekarang kita ber-Idul Adha dengan menumpahkan darah hewan kurban juga sebagai simbol ketakwaan kepada Allah.
Idul Adha yang kita rayakan ini bersamaan waktunya dengan penunaian ibadah haji oleh para hujjaj di Mekkah al-Mukarramah. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru dunia, tanpa mengenal batas geografi, nasionality, ras dan warna kulit. Mereka tanggalkan pakaian “ keakuan “ yang membentuk “ keangkuhan”
Sungguh sangat beralasan bila kita katakan bahwa potret manusia beriman yang telah merealisasikan kepatuhan secara bulat dan total kepada Allah itu, diperlihatkan oleh Ibrahim dan puteranya Ismail “alaihimas salam.
Seabad kehidupan Ibrahim yang “penuh dengan perjuangan melawan kebodohan kaumnya, tekanan penguasa Namrud dan kefanatikan manusia-manusia penyembah berhala, harus diuji dengan satu cobaan yang meluluh-rontokkan perasaannya sebagai seorang ayah.
Kendatipun dia berada di atas puncak kenabian, namun dia adalah seorang manusia biasa yang mencintai anak sebagai bahagian dari kehidupan. Ismail bagi Ibrahim bukan hanya sekedar anak, tetapi lebih dari itu. Ia adalah buah yang didambakan dalam usia Ibrahim lebih kurang satu abad. Ia adalah generasi yang dinantikan sebagai pelopor, ‘pelangsung dan penyempurna perjuangan menegakkan kalimat tauhid.
Namun tanpa terduga-duga wahyu Allah turun. “ Wahai Ibrahim taruhlah pisau ke leher putramu itu dan dengan tanganmu sendiri sembelihlah dia.” Ibrahim tergetar menerima perintah itu. Putera yang sangat dikasihi, buah hati sibiran tulang, yang memberikan alasan kepada Ibrahim untuk terus hidup, yang menyodorkan makna eksistensi dirinya, haruslah dirobohkan dan dikorbankan.
Ibrahim menghadapi dua pilihan dan pilihan itu bukan hitam putih, tetapi dilema, buah simalakama. ‘ Antara mengikuti perasaan hati sebagai seorang ayah, dengan menyelamatkan Ismail dari penyembelihan, ataukah benar-benar menyembelih Ismail dengan tangannya sendiri sebagai bukti kepatuhan menunaikan perintah Allah.
Dalam situasi dilematis syetan merasuki hati manusia. Syetan mendesak Ibrahim untuk memilih tidak menunaikan perintah Allah. Bagaimana caranya ? Syetan tersenyum simpul, karena ia mempunyai seni dan metodologi canggih dalam memperdaya manusia, yuwaswisu fi shudurin nas (dengan menimbulkankeraguan dalam hati manusia).
Karena ragu, manusia melarikan diri dari kewajiban dengan membuat penafsiran dan legitimasi. Perintah “ korbankan puteramu“ yang diterima Ibrahim harus diberi tafsir rasionalisasi. Al-Our’an menggambarkan Ibrahim berdiri di bebukitan Mina dalam menghadapi syetan. Ibrahim, bapak kaum monoteis, tokoh kemanusiaan yang paling besar dan mulia, profile dari hulu tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen dan Islam, berada di tubir jurang.
Setelah hampir lebih kurang satu abad hidup sebagai manusia saleh dan beriman, Ibrahim diperdaya oleh syetan. Sumber perdayaan itu adalah rasa cinta dan sayang kepada puteranya Ismail. Sang ayah yang telah tua dan kesepian itu, telah sedemikian lamanya mendambakan kehadiran seorang putera, dihadapkan kepada situasi teramat sulit, menyembelih anak dengan tangan sendiri.
Inilah pengalaman pahit yang sangat menyedihkan. Inilah tragedi ummat manusia yang sangat memilukan. Kewajiban yang harus ditunaikan oleh Ibrahim sungguh beban yang tidak tertanggungkan oleh seorang ayah dalam usia merembang senja.
Dengan memanfa’atkan Situasi ini syetan berbisik dalam hati Ibrahim : “ Ibrahim, perintah itu engkau terima dalam mimpi, bukankah mimpi kembangnya tidur.” Ibrahim menjawab bisikan hatinya sendiri. Ia telah mengambil putusan: yang tegas, yakni kemerdekaan mutlak mematuhi perintah Allah. Ismail harus dikorbankan, karena dialah penghalang terakhir menuju pembebasan kemanusiaan.
Lalu Ibrahim memanggil Ismail, dengan suara tegar serak-serak basah, Ibrahim berucap : “ Anakku sayang, ayah bermimpi, Allah memerintahkan supaya engkau ayah sembelih sebagai gurban.” Inilah yang diungkapkan oleh firman Allah dalam surah Ash-Shaffat (37) ayat 102 : “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”
Ismail bukanlah sembarang putera. Ia adalah generasi pelanjut seorang Nabi besar, pejuang Monoteisme yang gigih. Ismail baby bersama ibunya Siti Hajar, berangkat remaja di tengah padang pasir wadi Mekkah yang gersang dan tandus. Setiap saat menghampiri Ka’bah, bermunajah kepada Allah, dengan mendekatkan diri kepadaNya.
Ismail adalah generasi pekerja keras yang berpantang menyerah dan berputus asa. Generasi yang mengharamkan menepuk dada sebagai putera pejuang besar yang telah banyak berjasa bagi ummat manusia. Generasi yang menyingkirkan godaan memanfaatkan fasilitas dan wewenang yang dimiliki ayahnya untuk kepentingan diri sendiri guna membangun dinasti. Ismail, remaja sederhana, yang mengukir sejarah hidup dengan tangannya sendiri, memahami gejolak perasaan ayahnya.
Dengan ketegaran iman yang tak kalah kental dari ayahnya, Ismail menyahut ucapan Ibrahim, ayahnya tersayang : “ Ayah, patuhilah perintah Allah itu. Janganlah ayah merasa ragu dan bimbang. Nanti ayah akan ketahui bahwa sesungguhnya akupun patuh dan taat kepada Allah dan insya Allah akupun akan menjadi anak yang sabar.”
Demikian firman Allah dalam penggalan beikutnya surah Ash-Shaffat ayat 102. Ibrahim berserah diri kepada Allah. Diambilnya sebilah pisau, lalu diasah. Ibrahim membaringkan Ismail di atas bebatuan bukit Mina, mengikat kaki dan tangan, menjambak rambut dan mendongakkan kepala, agar urat urat nadi di leher Ismail kelihatan dengan nyata. Sembari melafazkan asma Allah, pisau ditoreh, mulai menekan dengan gesekan kuat menyembelih Ismail.
Namun sebelum pisau melukai leher, tiba-tiba muncul seekor domba yang besar dan gemuk, disertai sipongang suara : “ Wahai Ibrahim, engkau telah melaksanakan perintah dari mimpi itu Sungguh Allah tidak menghendaki engkau mengorbankan Ismail. Inilah seekor domba sebagai tebusannya.
Terminologi Qurban seakan dengan kata garib (dekat) yang kemudian memunculkan kata tagarrub ila “Allah (mendekatkan diri kepada Allah). Ini berarti dengan melaksanakan ibadah Qurban kita sebenarnya sedang berada dalam proses menuju kedekatan diri dengan Alah SWT. Allah adalah eksistensi Yang Maha Suci. Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh yang suci. Yang kotor tidak bisa mendekati Yang Maha Suci itu.
Oleh sebab itu berbahagialah kita yang dikarunia oleh Allah kemampuan berqurban hari ini, karena sedang mengalami proses pensucian hati nurani. Dari hati nurani yang bersih akan terpancar akhlakul karimah dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Kaum Muslimin dan Muslimat berbahagia.
Sesudah melaksanakan shalat Idul Adha dan menyembelih hewan Qurban, tergenggam tugas menerjemahkan semangat pengorbanan yang telah didemonstrasikan oleh Nabi Allah Ibrahim dan Ismail alaihimassalam. Kita tampil sebagai Ibrahim-Ibrahim masa kini yang menyerbu ke medan pengorbanan, lalu membawa Ismail-Ismail kita yang secara simbolik boleh apa saja yang sangat kita cintai. Boleh jadi Ismail-Ismail kita itu adalah harta kita, pangkat dan jabatan kita, professi kita, dan apa saja yang membuat ketergantungan kita pada kehidupan duniawi, maka jadilah Ibrahim Dan Ismail Era Now.
Akhirnya marilah kita sama-sama berdoa ke hadirat Allah SWT. Allahumma ya Allah, Engkau Tuhan Maha Pengasih tak pilih kasih, kami bersimpuh dihadapanMu, kasihilah kami dan ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, ampuni dosa dan kesalahan orang tua kami, baik yang masih berada bersama kami maupun yang lebih dahulu menghadapMu.
Allahumma ya Allah, Engkau Tuhan Maha Penyayang tak pandang sayang, curahkanlah rahmatMu yang maha luas, siramlah hati dan kalbu kami dengan rahmat hidayahMu, langgengkanlah iman dan Islam kami dalam ketundukan dan kepatuhan dalam syari ‘atMu.
Masjid At-Taqwa PCM Kebayoran Baru Jum’at, (06/06/25) Prof. Dr. Yunan Yusuf, M.A. (Wan)
