Staf Ahli Wamendiksaintek: Lima Kriteria Insan Kamil

Pcmkebayorsnbaru.org | Jakarta. – “Dalam suasana menunaikan shalat ‘Idul Fitri yang khidmat berselimut rahmat dan kemenangan, marilah kita menghaturkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas curahan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita, sehingga pada pagi hari yang cerah ini, kita dapat berkesempatan mensyiarkan dan mengikuti shalat Idul Fitri 1446 H / 2025 M dalam keadaan sehat walafiat, penuh gembira, bahagia dan syahdu.“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benarbenarMaha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18). Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya. Pada bulan Ramadhan kita telah bersama-sama berjuang yang amat melelahkan, menahan lapar dan dahaga di bawah trik sinar matahari yang menyengat, serta mengendalikan diri dan anggota tubuh kita untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang selama puasa pada Bulan Ramadhan,” hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Wakil menteri Pendidikan Sains dan Teknologi (Wamendiksaintek) Kabinet Merah Putih Dr. Gufron Amirulloh, M.Pd, saat memberikan ceramah pada Shalat Idul Fitri 1446 H/ 2025 M di Masjid At-Taqwa Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru Jakarta Selatan Senin, (31/03/25).
Puasa Ramadhan, lanjut Dr. Gufron mengajarkan seorang manusia menahan hawa nafsunya. Menurut Buya Hamka “Apabila hawa nafsu sudah dapat di kendalikannya, tertahanlah dan terpagarlah jalan-jalan yang tadinya terbuka untuk setan merasuk ke dalam diri.”Selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Islam kemudian mengunci puasanya itu dengan Idul Fitri atau hari raya makan. Idul Fitri juga dapat dimaknai sebagai kembali kepada kesucian. Ketika kaum muslim ber Idul Fitri selain merayakan dengan kebahagiaan dan kegembiraan, puasa Ramadhan akan membekas di dalam kehidupan kita dalam wujud segala Variabel ketakwaan.Sebanyak 2 (dua) miliar umat Islam di seluruh dunia berhasil menjadi lulusan terbaik Ramadhan 1446 H. Lulusan terbaik Ramadan 1446 H tentu memiliki beberapa dimensi, seperti kerohanian yang melahirkan spiritualitas dan moralitas, serta intelektualitas untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga berdimensi pada kebaikan yang lain untuk menjalankan visi islam rahmatan lil alamin – juga membumikan misi Islam yaitu untuk membangun peradaban utama yang bertumpu pada keluhuran akhlak.Melalui Ramadhan dan momentum 1 Syawal 1446, umat Islam naik kelas ekonominya, serta terlepas dari berbagai problematika sosial, bahkan juga politik yang selama ini umat Islam masih marjinal. Puasa Ramadhan juga menjadi kesempatan
“Sebagai sarana Transformasi kualitas umat Islam menjadi yang terbaik (khair al ummah) yang mampu menjadikan Risalah Islam sebagai pondasi untuk memajukan kehidupan. Sehingga kebesaran jumlah demografi sebagai mayoritas di negeri ini akan berbanding lurus dengan kemampuan kita, peran kita, sekaligus kehadiran kita sebagai Syuhada Alannas.Peningkatan Ketakwaan Pasca RamadhanPuasa Ramadhan bukan sekedar tentang menahan dari lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan kesempatan berkontribusi dalam meningkatkan kesalehan sosial. Kesalehan sosial paralel bermakna memiliki rasa peduli dan tanggung jawab kepada sesama manusia.Kesalehan sosial menghela manusia senantiasa berbuat baik, adil, dan bertanggung jawab. Orang yang bertakwa sosial tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan orang lain. Dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 133-134 menegaskan bahwa konsep takwa tidak hanya terbatas pada hubungan Individu dengan Allah SWT, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang penting. Ayat ini menekankan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa berlombalombadalam kebaikan, saling mengingatkan untuk menegakkan kebenaran dan kesabaran, dan saling membantu dalam kesulitan,” tambahnya.
Insan Kamil Sebagai Luaran Ramadhan”
Insan kamil berasal dari kata insan dan kamil. Insan berarti manusia, dan Kamil berarti yang sempurna. Jadi kata lain Insan Kamil yakni manusia yang sempurna. Kata insan bisa mengacu pada sifat manusia yang terpuji seperti kasih sayang, mulia dan lainya. Kata Insan juga digunakan untuk menunjukkan arti terkumpulnya seluruh potensi intelektual, rohani dan fisik yang ada pada manusia. Sedangkan Kamil dapat pula berarti suatu keadaan yang sempurna, dan hal itu terjadi melalui terkumpulnya sejumlah potensi dan kelengkapan seperti ilmu, dan sekalian sifat yang baik lainnya.Dalam Al-Qur’an dijelaskan kriteria manusia mukmin yang kamil atau paripurna antara lain disebut dalam QS Al Anfal, 2-4,” imbuhnya.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah tutur Dr. Gufron mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal, : 2-4). Dari ayat di atas tercantum lima kriteria Insan Kamil yaitu: 1. Senantiasa mengingat Allah, 2. Bila mendengar ayat-ayat Allah imannya bertambah, 3. Bertawakkal, 4. Menegakkan shalat dan 5. Menginfakkan sebagain rezkinya.
Transformasi diri Menuju Fitrah
“Saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah Swt, sebulan penuh kita jalani ibadah dibulan Ramadhan, dengan berbagai pembiasaan (habitus) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Ibarat sebuah madrasah, maka Ramadhan merupakat paket program Pendidikan karakter terlengkap yang tidak hanya menstimulasi potensi-potensi kebaikan dalam diri kita, sekaligus suatu proses pembelajaran, pelatihan dan pembiasaan yang melibatkan semua unsur manusiawi berupa fisik, otak, heart dan mind. Dan salah satu luaran yang dihasilkan di madrasah Ramadhan adalah kesalehan sosial. Puasa Ramadhan harusnya mampu menjadikan diri seseorang menjadi pribadi yang berubah lebih baik dari sebelumnya. Sebulan harusnya sudah cukup untuk membangun kebiasaan diri kearah yang lebih baik, tentu apabila puasa yang dilakukannya dengan sungguh-sungguh penuh rasa perhatian dan semangat. Sebagaimana sabda Nabi,“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).Nilai-nilai luhur yang ditanamkan selama Ramadan, seperti kesabaran, kejujuran, empati, dan ketakwaan, harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Insan kamil yang lahir dari madrasah Ramadhan adalah mereka yang mampu menjaga konsistensi ibadah dan akhlak mulia, serta berkontribusi positif bagi masyarakat. Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya menjadi bulan perubahan diri, tetapi juga menjadi titik awal dari perjalanan panjang menuju kesempurnaan sebagai manusia.James Clear dalam buku Atomic Habits (2014) menyatakan bahwa kebiasaan manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan pola yang diulang secara teratur. Berikutnya James Clear menyatakan bahwa tindakan kecil yang dapat dilakukan setiap hari memungkinkan individu untuk mengubah identitas dan mengembangkan kebiasaan yang lebih positif,” papar Dr. Gufron.
Meniti Jalan Insan Kamil Setelah Berkah Ramadhan
“Hadirin jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah SWT, Pendidikan keimanan dan ketakwaan yang dihabituasi selama Ramadhan idealnya diwujudkan dalam kesalehan sosial berbentuk akhlak mulia dan karakter positif. Kesalehan autentik adalah kesalehan lahir batin dengan spirit kemanusiaan, paralel dengan harapan lulusan Ramadhan untuk memohon maaf lahir dan batin kepada sesama.Contoh kesalehan sosial ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika melihat seorang anak bersedih pada hari raya Idulfitri. Dihikayatkan dari Anas bin Malik RA dari Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW keluar untuk menjalankan shalat Id. Rasulullah melihat anak- anak sedang bermain, beliau menemukan seorang anak yang berdiri menangis. Lalu beliau bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai anak?”Anak itu menjawab “Doakanlah aku wahai seseorang! Bapakku wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW, lalu ibuku menikah dengan orang lain, mereka mengambil rumahku dan memakan hartaku, jadilah aku seperti yang engkau lihat, telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika tiba Hari Id, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih, lalu aku menangis.” Nabi SAW menawarkan, “Apakah engkau mau saya jadi bapakmu, ‘Aisyah jadi Ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu?”Anak itu lalu menimpali, “Bagaimana aku tidak mau wahai Rasulullah?!” Kontan saja, wajah sedih anak tersebut berubah ceria. Itulah keteladanan Nabi. Kesalehan sosial itu menggembirakan, membahagiakan dan memberdayakan, tidak menyengsarakan, tidak melemahkan dan tidak memiskinkan sesama,” terang Dr. Gufron.
“Seorang Insan Kamil memiliki potensi besar untuk menciptakan ekosistem sosial yang harmonis, adil, dan sejahtera. Seorang Insan kamil secara aktif terlibat dalam upaya-upaya yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan solidaritas sosial. Melalui akhlak mulia dan integritas pribadi, Insan Kamil menjadi panutan dan sumber inspirasi bagi orang lain untuk berbuat kebaikan. Insan Kamilberupaya untuk mengatasi permasalahan sosial, bukan justru memperkeruhnya.Implementasi kefitrahan setelah puasa Ramadhan harus tampak dalam perannya menjadi pelita dan penolong kepada yang lain. Transformasi setelah Ramadhan adalah menjadi manusia terbaik yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR Ath-Thabari), jelas Dr. Gufron.
Penutup
“Jama’ah Shalat Idul Fitri rahimakumullah,Momentum Idul Fitri ini sebagai titik awal dari perjalanan panjang menuju kesempurnaan sebagai Insan Kamil. Insan Kamil adalah manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, memiliki akhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Mereka adalah Insan yang adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang, yang mampu membawa perubahan positif bagi dirinya, keluarga, bangsa dan negara,” pungkas Dr. Gufron Amirullah, M.Pd, mengakhiri khutbah Idul Fitri dengan do’a.
(Red)
