Uncategorized

Prof Din: Hadiah Terbesar Umat Islam Kepada Indonesia

Pcmkebayoranbaru.org | Jakarta. – Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79, sekaligus dalam rangka memperingati hari BerMuhammadiyah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta menggelar hari BerMuhammadiyah di Gedung Ir. H. Djuanda Jl. Kramat Raya No. 49 Jakarta Pusat Ahad, (04/08/24).

Tema yang diusung dalam hari BerMuhammadiyah di PWM kali ini adalah, “Keterlibatkan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah Dalam Memperjuangkan Indonesia Merdeka” Adapun pembicara yang sebagai sebagai narasumbernya adalah Prof. Dr. H. Din Syamsudin, Phd. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) periode 2005-2015.

Prof. Din saat pemaparannya mengatakan bahwa, dalam sebuah perjuangan tentu banyak resiko besar yang harus dihadapi, tidak terkecuali juga bagi Kasman Singodimedjo, salahsatu Tokoh pejuang kemerdekaan yang berasal dari Muhammadiyah.

Seperti kita ketahui bersama, lanjut Prof Din Beliau merupakan tokoh bangsa yang cukup lengkap. Sepanjang karir hidupnya, beliau pernah terjun di dunia politik sebagai politisi, pernah di medan pertempuran sebagai Tentara, pernah duduk sebagai Jaksa Agung, dan pernah pula menjadi pejabat di Kementerian Pertahanan.

“Walaupun beliau lebih dikenal sebagai tokoh politik, yang tak kalah penting bahwa beliau merupakan tokoh Muhammadiyah yang sangat dihormati. Secara tidak langsung beliau mampu meletakkan dan menempatkan secara proporsional antara Muhammadiyah dan Politik. Namun yang perlu kita syukuri bahwa, negara telah secara sah mengakui Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Muzakir sebagai pahlawan nasional,” ujar Prof. Din.

“Sebenarnya secara subtantif, ketiganya tidak memerlukan itu (gelar Pahlawan Nasional). Namun untuk kepentingan generasi masa depan dan keberlanjutan hidup sebuah bangsa, penyematan gelar kepahlawanan bagi ketiganya menjadi sesuatu yang sangat penting. Dan sampai saat ini telah ada 15 tokoh bergelar pahlawan nasional yang lahir dari rahim Muhammadiyah, diantaranya adalah Ir. Djuanda, Ruslan Abdul Gani, Otto Iskandar Dinata dll,” tambah Prof. Din.”

Sebagai tokoh Muhammadiyah, Kasman Singodimedjo merupakan sosok yang memiliki kharisma, kuat dalam prinsip, tegas, serta memiliki integritas yang tinggi. Memperjuangkan prinsip dan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang semestinya generasi muda produksi, bahwa perjuangan itu tidak instan. Serta ada banyak sekali dinamika di dalam hidup dan berjuang kepada anak-anak muda,” imbuhnya.

Dalam Islam, berjuang dapat diartikan sebagai Jihad Fi Sabilillah. Jalan ini akan mengantarkan pelakunya kepada keridhaan Allah Swt, dengan cara mengamalkan seluruh nilai dan prinsip kemuliaan yang Islam ajarkan.

“Ketokohan Kasman Singodimedjo telah menjadi torehan yang kuat bagi persatuan dan keutuhan bangsa, yang mana beliau berhasil membujuk Ki Bagus Hadikusumo untuk menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta, dengan dihapuskannya tujuh kata yang bersifat syariah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” yang bersifat ketauhidan bagi umat Islam,” tutur Prof. Din.

Nilai negosiasi yang memiliki fleksibilitas merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah yang ditunjukkan oleh Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo yang menurut para sejarawan disebut sebagai hadiah terbesar umat Islam kepada bangsa Indonesia. Yang saat ini kita sebut sebagai dasar negara Pancasila.

“Beliau selalu memegang prinsip keislaman dan kenegaraan serta memadukan keduanya demi terwujudnya prinsip Mu’amalah Duniawiyah yang sempurna. Dalam urusan Mu’amalah Duniawiyah tidak ada permasalahan yang dapat diselesaikan dengan cara tunggal. Dibutuhkan banyak sekali ijtihad serta cara untuk menanggulangi permasalahan yang juga mempunya beribu alasan untuk tetap ada,” jelas Prof. Din.“

Tugas kita sekarang adalah, bagaimana melanjutkan penerus perjuangan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah seperti Mr. Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Muzakir, Ir. Djuanda, Ruslan Abdul Gani, Otto Iskandar Dinata, dan lain-lain dengan cara mewujudkannya di PWM, PDM dan PCM,” tutup Prof. Dr. H. Din Samsudin, Phd.

(Wan)

Similar Posts