Prof. Muhajir: Muhammadiyah Akan Bangun Situs Sejarah

Pcmkebayoranbaru.org | Jakarta. – Dengan mengusung tema “Memajukan Kebayoran Menggerakkan Peradaban” serta sekaligus juga dalam rangka hari BerMuhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Selatan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru mengadakan Hari Ulang Tahun (HUT) / Milad ke-70 yang berlangsung di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Kebayoran Baru Jl. Limau I, II dan III, Sabtu, (12/08/26).
Adapun rangkaian kegiatan acara dalam rangka 70 Tahun Muhammadiyan PCM Kebayoran Baru tersebut, diawali dengan kegiatan lomba Fun Run dan Fun Walk, yang dilanjutkan dengan pemberian hadiah berupa uang pembinaan yang bernilai sebesar hingga Jutaan Rupiah kepada para pemenang Fun Run, pemberian hadiah undian berupa Door Prize bagi para peserta masing-masing lomba tersebut, Peluncuran buku 70 Tahun Muhammadiyah Kebayoran Baru, Peresmian Gedung baru Limaunese Edusky, Pengukuhan Ranting Lenteng Agung dan Petogogan serta Tabligh Akbar.
Terlihat hadir dalam kegatan acara tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) Prof. Dr. H. Muhadjir Effendi, MAP โทyang juga sebagai Penasihat Khusus Presiden RI, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta Drs. H. Daliman Sofyan, M.Pd, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Selatan Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd, Ketua PCM Kebayoran Baru Dr. Ahmad Said Matondang, M.E.Sy, para Ketua PCM dan PRM, serta para undangan lainnya.
Dalam Taushiyahnya Prof. Muhadjir mengatakan bahwa, PCM Kebayoran Baru serasa atau sekelas dengan PDM Jakarta Selatan dan PDM Jakarta Selatan juga Serasa atau Sekelas dengan PWM DKI Jakarta, kalau di daerah atau Pedesaan tantangan PCM dan PDM harus dapat menguasai Desa dan Kabupaten, maka untuk di daerah Perkotaan tantangan PCM dan PDM harus dapat pula menguasai Kecamatan dan Kota Madya.
“Mengapa Muhammadiyah hingga saat ini masih tetap eksis jika dibandingkan dengan Ormas-ormas yang lainnya?, karena Muhammadiyah mempunyai sikap dan pikiran yang terbuka, serta melakukan terobosan-terobosan seperti apa yang telah dilakukan oleh pendirinya, yaitu KH. Ahmad Dahlan, baik dibidang Pendidikan, Kesehatan maupun Sosial,” tutur Prof. Muhadjir.
“Oleh karenanya, kalau Muhammadiyah tidak mau terbuka dan tidak berani terjun di dalam dunia bisnis maka, Muhammadiyah tidak lagi mengikuti apa yang telah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan, karena Pendiri Muhammadiyah tersebut adalah Orang yang mau menerima pembaharuan dalam dunia Pendidikan dan Kesehatan, serta beliau juga seorang Pedagang (Pebisnis),” tambah Prof. Muhadjir.
“Muhammadiyah, lanjut Prof. Muhadjir janganlah mendirikan Sekolah untuk Orang Miskin, tapi dirikanlah Sekolah untuk Orang Kaya, namun jangan lupa berikanlah Subsidi untuk Orang Miskin tersebut, agar mereka tetap bisa bersekolah,”
“Untuk Mata Pelajaran (Matpel) Al-Islam dan KeMuhammadiyahan (AIK) yang diajarkan di Sekolah-sekolah Muhammadiyah, hendaknya para Siswa harus diajak untuk mengunjungi Situs sejarah di tempat kelahiran Muhammadiyah yang berada di Kota Jokjakarta, agar para Siswa tersebut bisa menggali, memahami dan menghayati sejarah perjuangan dari para pendahulu Muhammadiyah,” tegas Prof. Muhadjir.
“Terkait dengan adanya rencana untuk membangun Situs Sejarah Muhammadiyah, Muhammadiyah saat ini tengah melengkapi Museum Sejarah Muhammadiyah yang berada di Kota Jokjakarta, dan tidak tertutup kemungkinan para Siswa akan diajak untuk ikut berziarah mengunjungi Makam KH. Ahmad Dahlan, agar para Siswa tersebut kelak dikemudian hari nanti bisa dapat melanjutkan Kiprah dan Perjuangan dari Pendiri Muhammadiyah bagi Agama, Bangsa dan Negara,” tutup Prof. Dr. H. Muhadjir Effendi, MAP. (IKM)
